Numpang promo

Welcome To My Place......

Selamat datang di blogku

Sabtu, 31 Desember 2011

Bioteknologi - Kentang Transgenik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kentang merupakan salah satu makanan pokok sebagian besar masyarakat dunia, khususnya penduduk di Eropa. Keberadaan kentang sangat berpengaruh pada ketahanan pangan masyarakat di Eropa dan daerah lain yang menjadikan kentang sebagai makanan pokok. Menurut Duriat (1985), “kentang merupakan salah satu makanan pokok dunia di samping gandum, padi, dan jagung dengan kemampuan produksi perhektar lebih tinggi dibanding ketiga pangan pokok tersebut”.
Sementara itu, produksi kentang di Indonesia masih rendah. Produktivitas kentang di Sulawesi Selatan misalnya, dari tahun 1998-2002 baru mencapai 7,02 ton perhektar, sementara potensi hasilnya dapat mencapai 30 ton perhektar. Sedangkan menurut Rukmana (1997) “pemeliharaan yang intensif, sebenarnya produktivitas kentang dapat mencapai 30 - 35 ton perhektar”.
Menurut Pitojo (2004), “kebutuhan bibit kentang nasional setiap tahunnya diprediksi mencapai 120.000 ton padahal kualitas produksi kentang yang dihasilkan sangat ditentukan oleh mutu benih atau bibit awal yang digunakan dalam budidaya. Selama ini kebutuhan bibit yang sehat dan bermutu baru dapat tercukupi sekitar 2.100 ton.”.
Masjkur (2001) mengemukakan pendapat sebagai berikut.
Jumlah bibit bermutu yang dipasok oleh penangkar sangat terbatas, di lain pihak bibit impor bermutu tinggi harganya sangat mahal. Kondisi ini menyebabkan para petani enggan untuk menggunakan bibit bermutu (bersertifikat) untuk proses produksi. Selain itu, tingginya serangan hama dan penyakit dan rendahnya penguasaan teknologi baru juga merupakan masalah yang perlu segera ditangani.

Menurut Duriat (1985), “umumnya petani memperoleh bibit dengan menyisihkan sebagian umbi dari hasil panennya yang berukuran kecil tanpa melakukan seleksi bibit, atau dari petani lain berupa bibit lokal yang tidak diketahui asal-usulnya”.
“Banyaknya penyakit pada kentang yang terbawa benih akibat penggunaan benih secara turun-temurun menjadi penyebab tingginya intensitas serangan penyakit khususnya oleh virus. Penyakit tersebut bisa menyebabkan daya hasil atau produksi kentang menurun hingga 100%,” menurut Setiadi dan Nurulhuda (2005).
“Salah satunya adalah Potato Virus Y (PVY) yang merupakan virus paling penting pada kentang yang dapat menurunkan produksi kentang 40-80%,” menurut Afiyanti (2008) dalam Semangun (2004).
Mulyana (2005) mengatakan bahwa, “penggunaan benih sehat yang bebas atau berkadar virus rendah perlu dipersyaratkan karena terbukti bahwa makin rendah kelas benih (G2, G3, G4, dan non-sertifikat), makin tinggi persentase virus setelah benih ditanam di lapang. Yaitu benih yang tidak bersertifikat memiliki kandungan virus 6-7 kali lipat”.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pembuatan tanaman transgenik?
2. Bagaimana pembuatan tanaman kentang transgenik?
3. Apakah dampak positif dan dampak negatif dari tanaman transgenik bagi manusia dan lingkungan?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui cara pembuatan tanaman transgenik
2. Mengetahui cara pembuatan tanaman kentang transgenik
3. Mengetahui dampak positif dan negatif tanaman kentang transgenik bagi manusia dan lingkungan.

1.4 Manfaat Penulisan
1. Pembaca terutama mahasiswa mengetahui cara pembuatan tanaman transgenik, terutama pada tanaman kentang yang menjadi komoditas pangan sehingga diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan.
2. Pembaca terutama mahasiswa mengetahui dampak tanaman kentang transgenik baik dampak positif dan negatifnya yang akan mempengaruhi kehidupan manusia dan lingkungan sehingga diharapkan dapat menggunakan pengetahuannya secara bijak.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biomolekul

2.1.1 Definisi Biomolekul
Biomolekul merupakan senyawa-senyawa organik sederhana pembentuk organisme hidup dan bersifat khas sebagai produk aktivitas biologis. Biomolekul dapat dipandang sebagai turunan hidrokarbon, yaitu senyawa karbon dan hidrogen yang mempunyai kerangka dasar yang tersusun dari atom karbon, yang disatukan oleh ikatan kovalen. Kerangka dasar hidrokarbon bersifat sangat stabil, karena ikatan tunggal dan ganda karbon-karbon menggunakan pasangan elektron bersama-sama secara merata. Biomolekul bersifat polifungsionil, mengandung dua atau lebih jenis gugus fungsi yang berbeda. Pada molekul tersebut, tiap gugus fungsi mempunyai sifat dan reaksi kimia sendiri-sendiri.

2.1.2 Bentuk Senyawa Biomolekul
Senyawa-senyawa biomolekul biasanya dikenal dalam empat bentuk: protein, asam nukleat, karbohidrat, dan lipid. Keempat golongan biomolekul tersebut mempunyai sifat umum memiliki struktur yang relatif besar (berat molekul besar), dan karenanya disebut makromolekul. Berat molekul (BM) protein berkisar antara 5000 sampai lebih dari 1 juta, berat molekul berbagai jenis asam nukleat berkisar sampai beberapa milyar, karbohidrat (polisakarida) dapat memiliki berat molekul sampai jutaan. Molekul lipid jauh lebih kecil (BM 750 sampai 1500). Tetapi karena lipid umumnya terbentuk dari ribuan molekul sehingga membentuk struktur berukuran besar yang berfungsi seperti sistem makromolekuler, struktrur lipid juga dapat dianggap sebagai makromolekul. Protein merupakan polimer asam-asam amino, karbohidrat merupakan polimer monosakarida, asam nukleat merupakan polimer mononukleatida. Monomer lipid ada bermacam-macam, bergantung pada jenis lipidnya, diantaranya asam lemak, kolin, etanolamin, serin dan lain-lain.
2.1.3 Fungsi Biomolekul
Biomolekul mempunyai fungsi tertentu dalam sel, antara lain:
1. Protein sebagai enzim, alat transpor, antibodi, hormon dan pembentuk membran.
2. Karbohidrat sebagai sumber energi serta komponen pembentuk membran dan dinding sel.
3. Lipid sebagai sumber energi, hormon, dan pembentuk sel.
4. Asam nukleat sebagai faktor genetika, koenzim, pembawa energi, dan pengatur biosintesis protein.

2.2 Transgenik

2.2.1 Pengertian Transgenik
Transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu. Organisme transgenik adalah organisme yang mendapatkan pindahan gen dari organisme lain. Gen yang ditransfer dapat berasal dari jenis (spesies) lain seperti bakteri, virus, hewan, atau tanaman lain. Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau makhluk hidup lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya pembuatan tanaman yang tahan suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resisten terhadap organisme pengganggu tanaman, serta kuantitas dan kualitas yang lebih tinggi dari tanaman alami.

2.2.2 Proses Transgenik
Susunan materi genetik diubah dengan jalan menyisipkan gen baru yang unggul ke dalam kromosomnya. Tanaman transgenik memiliki kualitas lebih dibanding tanaman konvensional, kandungan nutrisi lebih tinggi, tahan hama, tahan cuaca, umur pendek, dan lain-lain sehingga penanaman komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan secara cepat dan menghemat devisa akibat penghematan pemakaian pestisida atau bahan kimia lain serta tanaman transgenik produksi lebih baik. Teknik rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman, yaitu memperbaiki sifat-sifat tanaman dengan menambah sifat-sifat ketahanan terhadap cekaman hama maupun lingkungan yang kurang menguntungkan sehingga tanaman transgenik memiliki kualitas lebih baik dari tanaman konvensional, serta bukan hal baru karena sudah lama dilakukan tetapi tidak disadari oleh masyarakat.

2.2.3 Tujuan Transgenik
Tujuan memindahkan gen tersebut untuk mendapatkan organisme baru yang memiliki sifat lebih baik. Hasilnya saat ini sudah banyak jenis tanaman transgenik, misalnya padi, jagung, kentang, kacang, kedelai, dan kapas. Keunggulan dari tanaman transgenik tersebut umumnya adalah tahan terhadap serangan hama.
2.2.4 Dampak Transgenik
1. Dampak Positif
a. Rekayasa transgenik dapat menghasilkan produk lebih banyak dari sumber yang lebih sedikit.
b. Rekayasa tanaman dapat hidup dalam kondisi lingkungan ekstrem akan memperluas daerah pertanian dan mengurangi bahaya kelaparan.
c. Makanan dapat direkayasa supaya lebih lezat dan menyehatkan.
2. Dampak Negatif
a. Berubahnya urutan informasi genetik yang dimiliki, maka sifat organisme yang bersangkutan juga berubah.
b. Bakteri hasil rekayasa yang lolos laboratorium atau pabrik yang dampaknya tidak dapat diperkirakan.
c. Kemungkinan menimbulkan keracunan.
d. Kemungkinan menimbulkan alergi.
e. Kemungkinan menyebabkan bakteri dalam tubuh manusia dan tahan antibiotik.

2.2.5 Pembuatan Tanaman Transgenik
Untuk membuat suatu tanaman transgenik, pertama-tama dilakukan identifikasi atau pencarian gen yang akan menghasilkan sifat tertentu (sifat yang diinginkan). Gen yang diinginkan dapat diambil dari tanaman lain, hewan, cendawan, atau bakteri. Setelah gen yang diinginkan didapat maka dilakukan perbanyakan gen yang disebut dengan istilah kloning gen. Pada tahapan kloning gen, DNA asing akan dimasukkan ke dalam vektor kloning (agen pembawa DNA), contohnya plasmid (DNA yang digunakan untuk transfer gen). Kemudian, vektor kloning akan dimasukkan ke dalam bakteri sehingga DNA dapat diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan bakteri tersebut. Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak dalam jumlah yang cukup maka akan dilakukan transfer gen asing tersebut ke dalam sel tumbuhan yang berasal dari bagian tertentu, salah satunya adalah bagian daun.
Transfer gen ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode senjata gen, metode transformasi DNA yang diperantarai bakteri Agrobacterium tumefaciens, dan elektroporasi (metode transfer DNA dengan bantuan listrik).
1. Metode senjata gen atau penembakan mikro-proyektil
Metode ini sering digunakan pada spesies jagung dan padi. Untuk melakukannya, digunakan senjata yang dapat menembakkan mikro-proyektil berkecepatan tinggi ke dalam sel tanaman. Mikro-proyektil tersebut akan mengantarkan DNA untuk masuk ke dalam sel tanaman. Penggunaan senjata gen memberikan hasil yang bersih dan aman, meskipun ada kemungkinan terjadi kerusakan sel selama penembakan berlangsung.
2. Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium tumefaciens
Bakteri Agrobacterium tumefaciens dapat menginfeksi tanaman secara alami karena memiliki plasmid Ti, suatu vektor (pembawa DNA) untuk menyisipkan gen asing. Di dalam plasmid Ti terdapat gen yang menyandikan sifat virulensi untuk menyebabkan penyakit tanaman tertentu. Gen asing yang ingin dimasukkan ke dalam tanaman dapat disisipkan di dalam plasmid Ti. Selanjutnya, A. tumefaciens secara langsung dapat memindahkan gen pada plasmid tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman. Setelah DNA asing menyatu dengan DNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan dapat diekspresikan tumbuhan.
3. Metode elektroporasi
Pada metode elektroporasi ini, sel tanaman yang akan menerima gen asing harus mengalami pelepasan dinding sel hingga menjadi protoplas (sel yang kehilangan dinding sel). Selanjutnya sel diberi kejutan listrik dengan voltase tinggi untuk membuka pori-pori membran sel tanaman sehingga DNA asing dapat masuk ke dalam sel dan bersatu (terintegrasi) dengan DNA kromosom tanaman. Kemudian, dilakukan proses pengembalian dinding sel tanaman.
Setelah proses transfer DNA selesai, dilakukan seleksi sel daun untuk mendapatkan sel yang berhasil disisipi gen asing. Hasil seleksi ditumbuhkan menjadi kalus (sekumpulan sel yang belum terdiferensiasi) hingga nantinya terbentuk akar dan tunas. Apabila telah terbentuk tanaman muda (plantlet), maka dapat dilakukan pemindahan ke tanah dan sifat baru tanaman dapat diamati.

2.3 Kentang Transgenik

1. Kentang Katahdin
Varietas kentang yang banyak ditanam petani peka terhadap penyakit hawar daun, penyakit utama kentang di seluruh dunia. Untuk mengatasi penyakit tersebut, Amerika Serikat telah menghasilkan kentang transgenik Katahdin. Kentang transgenik ini telah diuji di Indonesia di bawah pengawasan Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan dan dimonitor oleh Dr. Frank Shotkoski, Direktur ABSPII-USA.
Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Phytophthora infestans merupakan penyakit utama kentang di dunia. Di Indonesia, penyakit ini dapat menurunkan hasil sampai 80% pada musim hujan. Hasil studi sosial ekonomi yang dilakukan oleh Dr. Witono Adiyoga dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) menginformasikan, untuk mengendalikan P. infestans, petani menyemprotkan fungisida 20-30 kali setiap musim tanam. Introduksi kentang tahan penyakit hawar daun dari CIP telah dilakukan sejak tahun 1980-an, namun karena sifat ketahanan dikendalikan oleh gen tunggal maka sifat tahan tersebut cepat patah.
Ketahanan penyakit hawar daun yang horizontal dan durable sulit didapatkan dan perlu waktu yang lama. Persilangan biasa hanya menghasilkan keragaman genetik yang kurang begitu luas, sedangkan persilangan dengan kerabat jauh terjadi inkompatibilas dan sterilitas. Pemuliaan modern dengan pendekatan bioteknologi, yaitu dengan menyisipkan gen ketahanan, kemungkinan dapat mengatasi hambatan tersebut. Perakitan kentang tahan P. infestans dengan menggunakan gen RB yang diisolasi dari Solanum bulbocastanum telah dilakukan oleh tim peneliti dari University of Wisconsin, AS. Kentang transgenik varietas Katahdin tahan P. infestans dirakit melalui rekayasa genetik dengan Agrobacterium tumefaciens.
Melalui proyek ABSP II (Agricultural Biotechnology Support Project)-USAID, telah dijalin kerja sama penelitian perakitan kentang tahan P. infestans. Penelitian melibatkan beberapa lembaga internasional dan nasional, antara lain University of Wisconsin, Cornell University, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), dan Balitsa. Dua tanaman kentang transgenik Katahdin SP904 dan SP951 yang disisipi gen RB (diisolasi dari kentang liar) hasil rakitan University of Wisconsin menggunakan gen RB telah dikirim ke BB Biogen melalui Material Transfer Agreement untuk dievaluasi lebih lanjut di Indonesia.
Hasil uji lapang yang dilakukan di Lapang Uji Terbatas (LUT) Balitsa Lembang menunjukkan, sekitar 1 bulan setelah tanam, kentang varietas peka (Atlantik, Granola, Merbabu, dan Katahdin nontransgenik) mulai terserang P. Infestans baik pada daun maupun batang. Kemudian pada 64 hari setelah tanam, tanaman terserang parah, bahkan Atlantik dan Katahdin non-transgenik mati. Sebaliknya, varietas tahan Katahdin transgenik SP904 dan SP951 belum terserang P. infestans hingga 64 hari setelah tanam. Namun, selanjutnya tanaman transgenik ini mulai terserang P. infestans. Kondisi ini mirip hasil pengujian di Amerika Serikat, bahwa gen RB dapat mengendalikan penyakit hawar daun (P. infestans) pada awal musim saja.
Katahdin transgenik SP951 lebih tahan daripada SP904. Kerabat liar kentang (S. bubocastanum) PT29 yang merupakan sumber gen RB, menunjukkan ketahanan yang sangat tinggi bahkan dapat dikatakan kebal terhadap serangan P. infestans. Percobaan LUT ini dilakukan di bawah pengawasan Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan (TTKHKP) Indonesia dan dimonitor oleh Dr. Frank Shotkoski, Direktur ABSPII-USA.

2. Kentang Monsanto
Mulai pada tanggal 15 Mei 1995, pemerintah Amerika menyetujui untuk mengomersialkan kentang hasil rekayasas genetika yang disebut Monsanto sebagai perusahaan penunjang dengan sebutan kentang “New Leaf”. Jenis kentang hybrid tersebut mengandung materi genetik yang memungkinkan kentang mampu melindungi dirinya terhadap hama Colorado potato beetle. Dengan demikian tanaman tersebut dapat menghindarkan diri dari penggunaan pestisida kimia yang digunakan pada kentang tersebut. Selain resisten terhadap serangan hama, kentang transgenik ini juga memiliki komposisi zat gizi yang lebih baik bila dibandingkan dengan kentang pada umumnya. Hamabeetle Colorado merupakan suatu jenis serangga yang paling destruktif untuk komoditi kentang di Amerika dan mampu menghancurkan sampai 85% produksi tahunan kentang bila tidak ditanggulangi dengan baik. Daya perlindungan kentang transgenik tersebut berasal dari bakteri Bacillus thuringiensis sehingga kentang transgenik ini disebut juga dengan kentang Bt. Sehingga diharapkan melalui kentang transgenik ini akan membantu suplai kentang yang berkesinambungan, sehat dan dalam jangkauan daya beli masyarakat.
Bacillus thuringiensis menghasilkan protein toksin saat bakteri memberntuk spora. Dalam bentuk spora, berat toksin mencapai 20% dari berat spora. Apabila larva serangga memakan spora, maka di dalam alat pencernaan larva serangga tersebut, spora bakteri pecah dan mengeluarkan toksin. Toksin yang masuk ke dalam membran sel alat pencernaan larva mengakibatkan sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik dan pakan tidak dapat diserap sehingga larva mati. Dengan membiakkan Bacillus thuringiensis kemudian diekstrak dan dimurnikan, makan akan diperoleh insektisida biologis (biopestisida) dalam bentuk kristal. Pada tahun 1985 dimulai rekayasa gen dari Bacillus thuringiensis dengan kode gen Bt toksin (Winarno dan Agustina ,2007)


2.4 Kelebihan dan Kekurangan Tanaman Kentang Transgenik
2.4.1 Kelebihan
1. Tahan Hama
Bacillus thuringiensis menghasilkan protein toksin saat bakteri membentuk spora. Dalam bentuk spora, berat toksin mencapai 20% dari berat spora. Apabila larva serangga memakan spora, maka di dalam alat pencernaan larva serangga tersebut, spora bakteri pecah dan mengeluarkan toksin. Toksin yang masuk ke dalam membran sel alat pencernaan larva mengakibatkan sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik dan pakan tidak dapat diserap sehingga larva mati. Dengan membiakkan Bacillus thuringiensis kemudian diekstrak dan dimurnikan, makan akan diperoleh insektisida biologis (biopestisida) dalam bentuk kristal. Pada tahun 1985 dimulai rekayasa gen dari Bacillus thuringiensis dengan kode gen Bt toksin (Winarno dan Agustina ,2007)

2. Tahan Patogen
Perkembangan yang signifikan juga terjadi pada usaha untuk memproduksi tanaman transgenik yang bebas dari serangan virus. Dengan memasukkan gen penyandi tanaman terselubung (coat protein) Johnson grass mosaic poty virus (JGMV) ke dalam suatu tanaman, diharapkan tanaman tersebut menjadi resisten apabila diserang oleh virus yang bersangkutan. Potongan DNA dari JGMV, misalnya dari protein terselubung dan protein nuclear inclusion body (Nib) mampu diintegrasikan pada tanaman jagung dan kentang dan diharapkan akan menghasilkan tanaman transgenik yang bebas dari serangan virus. Virus JGMV menyerang beberapa tanaman yang tergolong dalam famili Graminae seperti jagung dan sorgum yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Gejala yang ditimbulkan dapat diamati pada daun berupa mosaik, nekrosa atau kombinasi keduanya. Akibat serangan virus ini, kerugian para petani menjadi sangat tinggi atau bahkan tidak panen sama sekali.

3. Tahan Cekaman Lingkungan
Menghasilkan jenis tanaman baru yang tahan terhadap kondisi pertumbuhan yang keras seperti lahan kering, lahan yang berkadar garam tinggi dan suhu lingkungan yang ekstrim. Bila berhasil dilakukan modifikasi genetika pada tanaman, maka dihasilkan asam lemak linoleat yang tinggi yang menyebabkan mampu hidup dengan baik pada suhu dingin dan beku.


4. Mengurangi Dampak Pencemaran Lingkungan
Tanaman transgenik tidak perlu pupuk kimia dan pestisida sehingga tanaman transgenik dapat membantu upaya perbaikan lingkungan.

5. Kadar Pati Tinggi
Kentang yang telah mengalami teknologi rDNA, kadar patinya menjadi lebih tinggi sehingga akan menyerap sedikit minyak bila goreng (deep fried). Dengan demikian akan menghasilkan kentang goreng dengan kadar lemak yang lebih rendah.

6. Produksi Meningkat
Pada seminar "Peran Ekonomi Bioteknologi dalam Pertanian Indonesia," Oktober lalu di Deptan, terungkap, keuntungan ekonomi pengembangan kentang transgenik hampir mencapai Rp7 triliun. Disebutkan pula, dalam jangka pendek, peningkatan produktivitas kentang 10% karena adanya adopsi kentang transgenik akan meningkatkan produksi kentang nasional untuk pakan 1,89% dan untuk konsumsi langsung 5,59%. Ditambah lagi bisa menurunkan harga kentang untuk pakan 1,45% dan untuk konsumsi langsung 1,05%.
Data itu dipaparkan oleh Centre for Alternative Dispute Resolutions, Regulation & Policy Analysis and Community Empowerment (CARE)-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. Angka-angka itu muncul setelah tim CARE-LPPM IPB melakukan pengujian lapang terbatas terhadap kentang transgenik di Lampung dan Jatim.
Dari hasil penelitian itu diketahui pula pengembangan kentang transgenik memberikan nilai tambah di tingkat usaha tani. Tambahan keuntungan petani rata-rata Rp6,1 juta per ha. Tak berlebihan bila pengembangan kentang transgenik akan membawa dampak positif cukup besar bagi peningkatan kesejahteraan petani.

2.4.2 Kekurangan
Sebagian besar bahan makanan berbahan kentang dan kedelai impor yang beredar mengandung produk transgenik. Produk hasil rekayasa ini diyakini sejumlah ahli berbahaya bagi kesehatan.
Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Iliyani Andang menyatakan, bahan makanan transgenik yang dikonsumsi secara terus menerus bisa mengakibatkan cacat kandungan hingga tumor.
“Dalam percobaan tentang transgenik jelas menunjukkan bahwa tikus yang diberi makan kentang transgenik menderita tumor, kemudian juga ada penelitian di Rusia tikus yang diberi makan kedelai transgenik itu juga kecenderungannya anaknya langsung mati atau tidak normal pertumbuhannya,” ujar Iliyani.
Peneliti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Iliyani Andang menambahkan, pangan transgenik yang beredar di Indonesia sulit dideteksi oleh konsumen. Kandungan transgenik baru bisa diketahui lewat uji laboratorium, padahal saat ini kedelai impor menguasai 70 persen pangsa pasar Indonesia.

PENUTUP

I. Kesimpulan
Revolusi hijau yang dianggap sebagai langkah baru dalam dunia pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian ternyata tidak berdampak dalam waktu yang lama. Jumlah penduduk yang semakin meningkat disertai dengan semakin kecilnya lahan untuk menghasilkan bahan pangan menjadi suatu anacaman yang serius. Jika tidak ditangani dengan baik, krisis pangan dapat terjadiPenggunaan rekayasa genetika dapat menjadi problem solving terhadap krisis pangan yang menjadi ancaman saat ini. Melalui rekayasa genetika, dapat dihasilkan tanaman dengan memiliki kualitas lebih baik, resisten terhadap hama dan penyakit dan juga memiliki kandungan gizi yang tinggi.
Contoh tanaman yang telah mengalami rekayasa genetika kentang. Di mana tanaman tersebut memiliki kelebihan tersendiri bila dibandingkan dengan tanaman sejenis seperti tahan terhadap hama dan penyakit dan memiliki komposisi gizi yang lebih baik. Walaupun masih menjadi kontroversi diantara berbagai kalangan, khususnya pemerintah Indonesia setidaknya memiliki satu solusi yang pasti untuk menghadapi krisis pangan yang menjadi ancaman saat ini yaitu penggunaan rekayasa genetika.
3.2 Saran
Sebaiknya dosen dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai materi agar mahasiswa lebih mengerti.


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous.2006.www.biotek.lipi.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=27:Tanaman%20Transgenik&catid=8&Itemid=53
Anonymous.2008.http://bioteknews.blogspot.com/2008/01/apa-benar-kedelai-transgenik-berbahaya.html
Anonymous.2008. http://www.hupelita.com/baca.php?id=57657
Anonymous.2008.http://moanbb.blogspot.com/2008/03/kapas-n-siapa-takut.html
Buckle.2007. Ilmu Pangan. UI Press : Jakarta
Winarno,FG .Agustina,W.2007. Pengantar Bioteknologi (Revised Edition). MBrio
Press :Jakarta
Winarno,FG.2007. Teknobiologi Pangan. Mbrio Press : Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar